2009/03/08

Setsumeikai, Juuhachi Kippu, Tokyo dan White Day

Minggu-minggu yang melelahkan dilewati dengan membuat Rirekisho (Curriculum Vitae) dan menghadiri Kaisha Setsumeikai dalam rangka mengikuti aktivitas mencari kerja. Untuk Setsumeikai yang diadakan di kota-kota besar yang berjarak jauh dari tempat tinggalku dan membutuhkan ongkos transport lumayan mahal, aku benar-benar bersyukur karena JR/Japan Railway (PJKA-nya Jepang) mengeluarkan tiket 青春十八切符 – Seishun Juuhachi Kippu. Seishuun Juuhachi Kippu (artinya harfiah: karcis untuk orang muda 18 tahun) hanya dijual dan digunakan selama 3 musim dalam 1 tahun yaitu libur musim semi (1 Maret-10 April), libur musim panas (20 Juli-10 September) dan libur musim dingin (10 Desember – 20 Januari). Maksud nama karcis adalah untuk digunakan para pelajar di Jepang selama musim liburan.
Cap bulat merah bertanggal menandakan karcis telah dipakai 1 kali pada tanggal tertulis.

Walaupun arti nama karcis sangat spesifik, kenyataannya yang memakai karcis ini adalah orang yang berumur beragam. Mengapa? Karena karcis tersebut sangat murah untuk perjalanan memakai kereta listrik milik JR (ingat: hanya untuk pengguna kereta listrik JR) keseluruh pelosok penjuru Jepang. Satu tiket Seishun Juuhachi Kippu dibeli dengan harga 11.500 yen untuk dipakai sebanyak 5 kali. 1 kali pemakaian akan di cap dengan stempel petugas stasiun kereta beserta tanggal pemakaian dan selama tanggal yang tertera di karcis, anda bebas pergi kemana saja dengan menggunakan kereta listrik milik JR. Anda bisa bayangkan, 1 hari anda bisa keluyuran keliling Jepang dengan tujuan kemana saja hanya dengan membayar kira-kira 2300 yen saja. Memang bepergian dengan kereta listrik jauh lebih lambat dari pada naik shinkansen (kereta peluru), tapi biaya yang dikeluarkan sangat murah.



Atraksi topeng monyet ada juga di Jepang, malah ini dibawah kaki Tokyo Tower

Karena sudah kepalang digunakan ke Tokyo dan aku jarang jalan-jalan keliling Tokyo, aku menggunakannya untuk pergi keliling Tokyo selama 1 hari penuh (tentu saja setelah selesai mengikuti jadwal setsumeikai di siang hari). Aku mengunjungi Tokyo Tower, Akihabara, Harajuku hingga Shibuya.

Takeshita dori di depan stasiun Harajuku, tempat jualan aksesoris unik buat anak muda. Ramai banget.


Yoyogi Gymnasium. Sering dipakai buat konser musik.

Tokyo Tower tentu terkenal dengan Tokyo Tower-nya dan disini aku sempat nonton pertunjukan topeng monyet di bawah kaki tiang Tokyo Tower-nya. Akihabara terkenal dengan pusat belanja elektronik, anime dan pernak pernik otaku-nya. Lalu Harajuku yang dikenal dengan Harajuku fashion style yang dipakai orang-orang mudanya lalu lalang di hari minggu (sayang aku pergi kesana pada hari sabtu). Selain itu juga di Harajuku aku mengunjungi Takeshita Dori (Jalan Takeshita), sebuah jalan pedestrian yang disepanjang jalan menjual pernak-pernik fashion dari yang unik dan cute hingga yang rada underground, Gothic Lolita, Punk dan Visual Kei. Tak lupa aku mengunjungi Yoyogi Gymnasium, salah satu tempat L'arc en Ciel menyelenggarakan konser Theater of Kiss. Di Shibuya aku cuma membayangkan bagaimana menjadi Bill Murray yang bingung ditengah keramaian sekitar penyeberangan jalan depan stasiun Shibuya dalam film Lost in Translation.

Shibuya scramble crossing


Salah satu spot di Shibuya

Lumayan capek dan kaki pegal, tapi menyenangkan juga walaupun tetap saja lokasi jalan-jalan favoritku ada di kota kuno Kyoto. Semakin lama tinggal di Jepang, aku lebih tertarik untuk mengunjungi tempat-tempat kuno dibandingkan lokasi modern penuh gedung. Sekedar info, seluruh foto dijepret dengan menggunakan telepon selularku Casio Exilim W53CA dengan kamera 5.1 Megapixels.

Ini dia coklat yang bakalan dikasih pada White Day

O iya, untuk menyambung postingan Valentine’s Day, aku mau nggak mau beli coklat balasan yang bakalan di kasih pada cewek bersangkutan di hari White Day nanti tanggal 14 Maret 2009. Nggak ketemu coklat ayam ataupun wafer coklat superman, terpaksa beli coklat Jepang.

2009/02/14

Valentine's Day, pengalaman pertama di Jepang

Postingan hari ini bertepatan dengan Valentine’s day yang dirayakan oleh orang-orang yang butuh kasih saying dicurahkan hanya untuk satu hari saja dalam setahun, yaitu tanggal 14 Februari. Saya sendiri cukup malas untuk membahas penting atau tidaknya merayakan atau menolak merayakan Valentine’s day, toh sudah cukup banyak yang membahas pro-kontra Valentine’s day. Lagi pula saya termasuk yang berdiri di tengah, tidak tertarik merayakan tapi juga ogah menghalangi orang yang mau merayakannya.


Sebuah Giri Choko. Tertulis dengan huruf katakana dan hiragana, "Andori san"

Yang membuat saya menulis postingan seperti ini adalah pada hari H di laboratorium penelitianku, 3 mahasiswi S1 tahun ke empat masing-masing membuat kue kering cokelat kecil untuk diberikan ada seluruh cowok di lab.yang berjumlah 22 orang. Dengan begini diperlihatkan bahwa cewek-cewek muda di Jepang bukan hanya memberikan kue untuk kekasih hati saja, tetapi juga untuk teman-teman cowoknya (dalam artian bukan pacar). Cokelat seperti ini umumnya disebut Giri Choko (義理チョコ) yang berarti cokelat kewajiban. Kata mereka sih cokelat untuk kekasih hati, lain lagi bentuk cokelatnya. Baru tahu kalau Valentine’s day di Jepang agak berbeda tipenya.

Yang bikin bingung ketika Iwasaki-san bilang kepadaku bahwa pada tanggal 14 Maret tepat satu bulan setelah Valentine’s day, cowok-cowok yang mendapat cokelat diwajibkan membalas balik pemberian cokelat cewek-cewek itu pada hari yang hanya dikenal di Jepang sebagai White Day. Jadi bingung mau ngasih apa. Ada yang punya ide bagus?

NB. Cokelat pemberian balasan ini juga berbentuk Giri Choko, kecuali kalau anda “punya hati” dipersilahkan memberikan cokelat yang special.

2009/02/08

Melamar kerja disaat krisis di Jepang

Bulan Januari hingga Maret adalah masa para mahasiswa tingkat akhir di universitas-universitas Jepang untuk melakukan 就職活動 (shuushoku katsudo), semacam kegiatan mencari kerja. Yang dimaksud tingkat akhir disini adalah tahun ke-3 bagi S1, tahun pertama bagi yang S2 dan tahun ke-2 bagi yang S3. Memang kebiasaan mahasiswa perguruan tinggi mencari kerja di Jepang dilakukan sebelum satu tahun jadwal kelulusan. Mahasiswa S2 di laboratorium penelitianku yang melaksanakan shuushoku katsudo sekarang direncanakan akan lulus pada bulan April tahun 2010.

Kegiatan ini agak berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya akibat situasi ekonomi yang kurang bagus karena tingginya nilai mata uang Yen Jepang di dunia. Otomatis banyak industri yang kolaps, pabrik tutup dan akhirnya PHK dimana-mana. Karyawan lamanya saja di PHK, bagaimana mau merekrut karyawan baru? Anak-anak mahasiswa S1 yang akan lulus April tahun 2009 nanti saja banyak yang kalang kabut akibat perusahaan yang telah menerima mereka tahun lalu terpaksa membatalkan rencana perekrutan akibat kebijakan pengurangan pegawai. Mau bagaimana lagi, terpaksa mereka mencari lowongan kerja baru sambil berkutat menyelesaikan skripsi TA mereka.


Sebuah kigyou setsumeikai yang diadakan universitas dengan mengundang berbagai macam perusahaan yang tertarik merekrut lulusan mereka


Bagaimana dengan pandangan perusahaan yang ingin merekrut karyawan baru lulusan perguruan tinggi? Tahun-tahun belakangan pasaran tenaga kerja di Jepang di kenal dengan nama 売り手市場 (urite shijou) atau seller’s market akibat banyaknya jumlah pekerja usia lanjut yang pensiun sehingga perusahaan membutuhkan banyak tenaga kerja baru sebagai pengganti. Ketika krisis ekonomi mulai melanda Jepang di pertengahan tahun 2008 pola perekrutan tenaga kerja tiba-tiba saja berubah terbalik menjadi 買い手市場 (kaite shijou) alias buyer’s market dan menyebabkan perusahaan sangat berhati-hari merekrut tenaga kerja baru.

Selain itu juga banyak HRD perusahaan yang mengeluhkan para pelamar tahun-tahun terakhir “lack common sense”. Pernah ada kejadian ketika sebuah perusahaan menyodorkan tawaran pekerjaan kepada seorang lulusan baru, jawaban penolakan yang didapat justru dalam bentuk e-mail keitai (hand-phone) disertai karakter emosi seperti   :P , dll.
HRD perusahaan lain menceritakan betapa dia pernah bertemu dengan seorang lulusan baru pada sebuah sesi wawancara mengatakan, “Bagaimana anda bisa tahu saya ini seperti apa hanya dengan wawancara 15 menit saja!”
Pada kesempatan lainnya HRD sebuah perusahaan apparel juga menceritakan seorang mahasiswi lulusan baru yang sedang diwawancara mengatakan, “Apakah perusahaan anda merupakan tempat bekerja yang menyenangkan? Tolong kasih tahu saya, apa saja yang dilakukan para staff untuk bersenang-senang.”

Bagaimana hal ini bisa terjadi? Menurut seorang konsultan senior HRD Fujikawa Takanori, para siswa tidak serius berkomunikasi dengan perusahaan mengacu pada perekrutan melalui internet. Seperti yang diketahui, sejak tahun 2000 penggunaan massif internet sebagai sarana komunikasi pelamar kerja dengan perusahaan menyebabkan para pelamar tinggal duduk dan mencari kerja lewat job search engine seperti rikunabi. Dengan cara seperti ini, para siswa cenderung kurang serius sewaktu melamar kerja dan terbukti sejak berlakunya metode ini jumlah pelamar yang menolak lamaran meningkat hingga 20 persen. Memang problem utamanya bukanlah dari pihak pelamar ataupun perusahaan yang dilamar, tetapi masalah komunikasi anata kedua belah pihak. Kalau anda tanya para mahasiswa pelamar tentang pemakaian internet sebagai sarana mencari kerja, tentu mereka akan menjawab, “Praktis!” Praktis dalam soal melamar atau praktis dalam hal menolak? Walahualam…..
Yang pasti, para lulusan yang memiliki keahlian/pengetahuan khusus dan spesifik tentu memiliki kesempatan yang lebih mudah untuk mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan bidangnya beserta pendapatan yang lumayan memuaskan.

Sumber:
- Dari berbagai macam media Jepang.
- Hasil obrolan dengan Takero, Dai, Uchida, dan Matsuyama (thank you guys).

NB. Melamar lewat internet hanya tahap awal saja, setelah disetujui oleh kedua belah pihak, mulailah sesi 企業説明会(kigyou setsumeikai) dan 面接 (mensetsu) beruntun hingga tahap akhir penerimaan karyawan.

Kosa kata:
就職活動 – Shuushoku katsudou = Aktivitas mencari/melamar pekerjaan
売り手市場 – urite shijou = Seller’s market, kondisi pasar yang lebih banyak pembeli (perusahaan) dari pada penjual (pelamar kerja)
買い手市場 – Kaite sijou = Buyer’s market, kebalikan dari Seller’s market
企業説明会 – Kigyou setsumeikai = Ajang presentasi untuk penjelasan mengenai perusahaan (visi, produk,dll) bagi para pelamar yang tertarik.
面接 – mensetsu = Wawancara

2009/01/19

Industri yang tidak terpengaruh krisis

Di daerah Yurakucho pusat kota Tokyo, tepatnya di gedung Tokyo International Forum tampak gadis-gadis muda cantik nan seksi berkumpul akhir desember tahun lalu. Ada apakah gerangan? Akhir desember adalah saat banyak perusahaan menyelenggarakan bounenkai (semacam pesta tutup tahun) dengan para karyawannya. Kumpulan cewek-cewek cakep dan seksi itu juga sedang melaksanakan bounenkai seperti karyawan perusahaan lainnya, hanya saja mereka adalah karyawan industri film porno. Menurut kabar orang dalam, mereka sedang merayakan stabilnya kondisi pasar perfilman porno di Jepang.

Ketika industri otomotif dan elektronik sedang gencar memangkas produksi, jumlah karyawan dan ongkos demi menyelamatkan industri mereka, industri film porno justru terlihat tidak terpengaruh imbas krisis ekonomi moneter. Menurut salah satu peserta bounenkai, hadiah permainan bingo dalam pesta saja memasukkan acara jalan-jalan ke luar negeri. Belum lagi aktris top andalan perusahaan mereka mendapatan bonus dari jumlah setengah juta hingga 1 juta yen. Pokoknya setiap orang terlihat berhura-hura. Sampai-sampai seorang tamu merasa acara ini terlalu menyolok mengingat orang-orang lain sedang berhemat mengencangkan tali ikat pinggang mereka akibat resesi ekonomi..


Interior lantai dasar dalam gedung Tokyo International Forum

Tidak semua tamu merasa risih seperti yang dikemukakan diatas. Beberapa tamu lain malah merasakan kalau acara pesta kurang mantap dan kurang seksi, malah mereka berharap lebih gila-gilaan mengingat penyelenggara adalah produser film porno. Tak tahunya para produser hanya menyelenggarakan pesta biasa lengkap dengan hiburan para penyanyi terkenal diatas panggung, tanpa ada hal-hal aneh dan vulgar.

Para pekerja industri pornografi ini menyatakan bahwa perusahaan mereka mendapatkan keuntungan dalam berbisnis berkat deretan av idol terkenal yang terikat kontrak dengan perusahaan sebagai mesin uang mereka. Tak perduli betapa buruknya kondisi ekonomi dan resesi yang melanda Jepang, selalu saja ada permintaan konsumen untuk produk mereka.

Terlepas dari krisis ekonomi ataupun krisis moral, Maria Ozawa dkk akan tetap eksis dan siap memenuhi permintaan pelanggan dengan produk-produk mereka. Adakah yang masih mau bilang seluruh industri terimbas krisis moneter? Yang satu ini sepertinya tidak.

AV idol = Adult Video idol = Artis film dewasa (porno).

(sumber: dari berbagai macam media cetak Jepang)

2009/01/18

Krisis Ekonomi di Jepang dan Industri Otomotif

Catatan: Saya bukan pengamat ekonomi profesional, apalagi ahli ekonomi.

Semenjak berawalnya krisis moneter di USA, hampir seluruh negara yang berhubungan dengan USA, baik secara politik maupun ekonomi ikut terimbas. Jepang yang notabene termasuk negara yang memiliki pondasi ekonomi kuat juga ikut kena imbasannya. Bagaimana tidak, banyak produk Jepang (terutama industri mobil) yang dipasarkan di USA harus mengalami penurunan tingkat penjualan akibat besarnya nilai tukar Yen (mata uang Jepang) terhadap Dollar (mata uang USA). Di Jepang sendiri istilah Endaka kembali melesat menjadi kata yang sering diucapkan oleh para pengamat ekonomi amatiran maupun professional.
(En = cara orang Jepang menyebut Yen, Daka = Taka = tinggi, Endaka = tingginya nilai Yen)


Dengan penurunan penjualan, otomatis produksipun ikut berkurang ditambah dengan ongkos produksi yang turut membengkak dan turunnya daya beli masyarakat terhadap produk Jepang diluar negeri. Yang paling merasakannya adalah industri mobil, baik produsen langsung yaitu pabrik-pabrik raksasa maupun industri penyangganya (sub-kontraktor) yang berupa pabrik-pabrik kelas menengah kebawah. Perusahaan kecil tempat aku pernah Arubaito (kerja sambilan) yang mengerjakan spare part pabrikan mobil HONDA juga akhirnya tutup dan pemiliknya akhirnya ikutan kerja sebagai karyawan biasa di pabrik induknya. Masih untung bagi beliau yang masih bisa bekerja, banyak karyawan lain justru harus pasrah di kubi (istilah Jepang untuk PHK) atau dengan bahasa halusnya resutora (dari kata restrukturisasi).

Yang terlihat paling menderita adalah pabrikan kendaraan bermotor, khususnya mobil dan perusahaan alat-alat elektronik. Perusahaan elektronik raksasa SONY dikabarkan akan merampingkan jumlah karyawannya dengan mem-PHK 8.000 orang karyawannya, grup TOYOTA sendiri berencana memangkas hingga 3.000 orang, lalu disusul NISSAN dan HONDA dengan rencana meng-kubi hingga 1.500 orang karyawan mereka masing-masing. Ingat! Ini hanya perusahaan induk, tidak termasuk sub-kontraktor mereka. Bayangkan saja pabrik mobil TOYOTA yang akan memecat 3.000 orang karyawannya, bagaimana pula dengan pabrik-pabrik lain yang memproduksi spare part untuk suplai mobil TOYOTA seperti dashboard, kaca, lampu, rem, jok mobil hingga kaca spion? Ini hanya TOYOTA saja, belum lagi pabrik penyuplai komponen otomotif merek raksasa lain seperti NISSAN, HONDA, dll sehingga angka-angka diatas bisa melampaui jumlah karyawan SONY yang di-kubi. Bagaimana dengan pekerja kontrak? Sebelum mereka memberhentikan para karyawan tetap, tentu saja pekerja kontrak sudah terlebih dahulu diputuskan kontraknya secara sepihak.


Salah satu contoh kei-jidousha produksi SUZUKI

Kemanakah nama industry mobil besar SUZUKI? Ternyata walaupun grup SUZUKI juga terkena imbas krisis, mereka sedikit lebih mendingan dari pada grup-grup besar diatas. Hal ini disebabkan oleh orientasi produksi mobil SUZUKI di Jepang yang lebih memfokuskan konsumsi dalam negeri. Di tahun-tahun terakhir sebelum krisis moneter USA, ketika TOYOTA, NISSAN dan HONDA sedang memusatkan perhatian mereka untuk ekspansi penjualan di luar negeri khususnya USA dan negara-negara Eropa, grup SUZUKI ternyata lebih memilih untuk meraih pasar dalam negeri dengan memperbesar jangkauan penjualan Kei-Jidousha (mobil dengan cc kecil sekitar 660 cc semacam karimun). Paling tidak strategi grup SUZUKI cukup sukses untuk lebih bisa bertahan dibandingkan grup besar lain, walaupun faktor keberuntungan tidak terlepas dari strategi pemasaran tersebut.

(sumber: dari berbagai macam media Jepang)

2009/01/16

Kanamara Matsuri di Kawasaki, Jepang

Catatan: Postingan ini membicarakan festival budaya.

Kalau ngomong soal yang aneh-aneh, Jepang termasuk jagoannya. Dari soal makanan, festival sampai kuil, ada saja yang aneh. Pernahkah anda membayangkan ada kuil yang nyerempet-nyerempet tema seks? Postingan ini membahas festival yang diselenggarakan berdasarkan tema tersebut.

Ada dua masturi (Japanese festival) terkenal di Jepang yang dilaksanakan berdasarkan tema berkenaan dengan seks yaitu Kanamara Matsuri dan Hounen Matsuri. Seperti umumnya matsuri di Jepang yang disponsori oleh Jinja (kuil Shinto) atau Otera (kuil Buddha), kedua matsuri ini juga disponsori oleh Jinja setempat. Yang pertama Kanamara Matsuri diselenggarakan oleh Kanayama Jinja, sedangkan Hounen Matsuri diselenggarakan oleh Tagata Jinja di propinsi Aichi dekat Nagoya. Kali ini saya hanya membahas Kanamara Matsuri (Festival phallus besi) saja.


Mikoshi berbentuk phallus siap untuk dipanggul dan diarak dari Jinja

Kanamara Matsuri (かなまら祭) biasanya diselenggarakan pada hari minggu pertama pada awal bulan april di daerah Kawasaki, propinsi Kanagawa, Jepang. Menurut legenda setempat yang berdasarkan cerita Kojiki bagian kisah Kagutsuchi si dewa api, seorang gadis cantik dirasuki oleh setan jahat yang telah mengebiri dua mempelai prianya pada malam pengantin dengan menggunakan gigi setannya. Setan jahat ini dibasmi oleh seorang tukang besi yang bersenjatakan batangan besi berbentuk phallus yang merontokkan gigi si setan jahat. Senjata si tukang besi inilah yang menjadi pertanda Kanayama Jinja dan juga tema Kanamara Matsuri yang sudah diselenggarakan sejak jaman Edo. Menurut kabar, pada jaman Edo para PSK ramai mengunjungi Kanayama Jinja untuk meminta perlindungan dari penyakit (jaman itu sipilis kali?) serta keberuntungan dalam berbisnis. Hal ini berlanjut ke masyarakat sekitar yang ramai mengunjungi kuil terutama untuk memohon kesuburan (memperoleh keturunan) hingga melahirkan tradisi matsuri unik ini.


Menunggang phallus pahatan dari kayu

Jaman sekarang festival ini dijadikan ajang untuk pengumpulan dana memerangi HIV dan penyakit AIDS selain tentu saja sebagai atraksi wisata hiburan dengan adanya mikoshi - 神輿(miniatur perwakilan Jinja yang dipanggul keliling) juga arak-arakan. Pada hari matsuri (mungkin juga pada hari biasa) banyak sekali dijual bermacam-macam aksesoris dan makanan khas matsuri. Khas Kanamara Matsuri? Hehehe.... tentu saja barang khas matsuri yang satu ini adalah phallus dan pasangannya. Dari pajangan, gantungan kunci hingga permen lollipop. Kebayang nggak menghisap permen lollipop berbentuk phallus? Festival yang gila beginian mungkin cuma ada di Jepang.


Itu tuh lollipop khas Kanamara Matsuri (ada yang mau??)

2009/01/08

Bokura no kenkyusitsu (僕らの研究室)

I don’t know what kind of topic that I want to write in this blog, so.... by this opportunity I want to introduce our research lab to you. The meaning of title above is "Our Research Laboratory".


Almost all of our lab members gathering for welcome party at the 2nd floor laboratory

It is a material science research group located in Hamamatsu Japan, supervised by two professors Suzuki-sensei and Wakiya-sensei plus one associate Sakamoto-sensei. The laboratory consist 4th year under graduate students and graduate students (master and doctor degree) and a special student status, kenkyuusei (research student). Well, I was a research student for 1 year before because of my lack knowledge about material science (I got bachelor degree from chemistry) and I was need an introduction course to material science and also Japanese language through research student time. Perhaps it’s a kind of matriculation.


Members of 3rd floor student room

By the way, I am the only non Japanese student in my lab, but everybody in here is very helpful to me. They never refuse to help me for my annoying question about language or even the experiment itself. Well, thanks so much guys. From October 2008 to January 2009, Hana Ursic a doctoral student from Slovenia visit us as visitor researcher and make me not the only one foreigner in this lab for 3 months. Since I didn't meet her and say farewell when she return to Ljubljana Slovenia, I dedicating this posting for our say good bye to her.

After 飲み会 (nomikai) - a kind of drinking party for Hana

Andori, Ookushi, Iwasaki, Uchida, Murase, and Sawamura

Just like another research lab activity, we have routine seminars, experiments, etc. But I want to talk about our non-research activities in here. You can see in the picture that we held bounenkai and shinnenkai (party around new year), welcome party for new member, karaoke or even softball competition.


For the first time that our lab team got the softball winner cup ( 2008 ) in Aichi province

Well, I never play softball or baseball before I came to Japan, but I have fun when I played it for the first time. You know that baseball or 野球 (yakyuu) in Japanese is the most famous team-sport game in Japan while soccer/football is the second. When I was playing in the game, I didn't know the rule even a little bit. My friends told me just hit the ball as possible I can and then run to base that located on my right side. Hahahaha....funny and interesting.


Everybody eat from 鍋 (nabe) a kind of japanese pan for preparing hot dishes (vegetables, mushroom, kimchi, meat, etc) especially in winter