Tampilkan postingan dengan label jepang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jepang. Tampilkan semua postingan

2009/10/06

Winning Eleven/ Pro- Evolution Soccer Tournament

Sejak tinggal di Jepang, aku sama sekali tak pernah menyentuh cosole permainan Sony Playstation apalagi memainkannya. Untuk memainkan game Winning Eleven (WE) alias Pro Evolution Soccer 2009 (PES 2009), aku terpaksa menggunakan komputer. Masalahnya, main WE atau PES tanpa lawan tanding (non komputer) masih sulit dilaksanakan karena kenalan yang punya hobi main game ini masih kurang. Satu-satunya orang yang kukenal suka main WE/PES adalah PrS dan hanya dengan dia aku sering berlatih tanding. Sedangkan teman lain yang bernama WLN kayaknya kurang hobi main WE/PES karena hampir tak pernah kulihat memainkannya.



Di tempat kerja part-time, salah seorang kenalan Jepang bernama Shuuhei ternyata suka juga main WE, ditambah lagi Nguyen anak Vietnam karyawan sesama part-time sekaligus tetangga di Kaikan (dormitory) juga hobi main WE lewat console Playstation 2. Ditambah WLN, jadilah kami bersepakat main bersama dengan mengambil tempat tanding di aula Kaikan. Nguyen mengajak 3 teman Vietnam-nya, kami bertiga dari Indonesia dan Shuuhei, keseluruhannya 8 orang membuat turnamen dengan sistem gugur.


Terbiasa main PES 2009 dikomputer ternyata berakibat buruk dalam memainkannya lewat console PS2. Walaupun level permainanku cuma medioker, tapi jarang-jarang kalah dibantai banyak gol. Dalam turnamen kali ini, aku harus gugur dibabak awal melawan Nguyen yang akhirnya menjadi juara dengan skor telak 4-1. Aku merasa aneh sekali memainkan game yang sama lewt console PS2, baik dari segi reflek jari dalam menekan tombol maupun gerakan para pemain sepak bola dalam PES 2009 yang menurutku berbeda antara versi komputer dan PS2.

Pertandingan final yang diakhiri adu penalti

PrS yang sama-sama gugur dibabak awal dan terbiasa memakai PES 2009 versi komputer mengusulkan untuk turnamen berikutnya supaya menggunakan sistem home-away. Para pemain yang terbiasa menggunakan PS2, bermain dengan komputer untuk pertandingan away. Begitu juga sebaliknya dengan kami yang terbiasa menggunakan komputer sebagai pertandingan kandang. Yah, paling tidak kalau sampai kalah dibantai dengan banyak gol dengan sistem ini, tak ada alasan lagi untuk berkelit tentang level bermain PES yang ternyata sangat rendah.

NB.
Kain sarung yang kupakai ternyata menimbulkan pertanyaan dan keingin tahuan Shuuhei dan Nguyen. Apakah kain sarung sama dengan celana panjang? sarung sama dengan baju?

2009/09/20

Lebaran di Jepang........ lagi

Seorang teman menanyakan padaku tentang lebaran di Jepang
"Kiape kabarnye,de jepun mikak lebaran juak ke???"
Arti: "Gimana kabarnya, di jepang kalian lebaran juga nggak???"


Muslim dan Muslimat yang belum pernah mengalami merayakan Idul Fitri di luar negeri, terutama di negara yang mayoritas penduduknya non-muslim, tentu bertanya-tanya seperti apa kondisi dan cara merayakannya. Seperti juga di Jepang yang notabene kebanyakan penduduknya beragama Buddha KTP alias Shinto abangan (tidak pernah ibadah ke Kuil Budha ataupun Jinja secara reguler kecuali ada perlu), umat muslim yang merayakan Idul Fitri mau tidak mau harus menyesuaikan diri dengan gaya hidup penduduk mayoritas.


Sebelum sholat Ied dimulai, para jamaah di luar ruangan Conference Hall Act City Hamamatsu yang tak kebagian tempat di dalam ruangan.

Tahun ini (lebaranku yang ke 4 di Jepang), perayaan Idul Fitri 1 Syawal 1430 H bertepatan pada hari minggu tanggal 20 September 2009 menyebabkan jumlah para peserta sholat Ied membelundak. Bagaimana tidak, hari minggu adalah hari libur yang bertepatan pada Gorenkyuu (hari libur beurutan 5 hari) dari sabtu hingga rabu menyebabkan banyak muslim yang bekerja ataupun sekolah memiliki waktu luang. Di kota tempatku tinggal sendiri yang panitianya menyediakan ruang Conference Hall di Act City cukup kewalahan menampung para jamaah sholat Ied sehingga banyak jamaah yang terpaksa sholat di luar ruangan. Malah menurut temanku yang ikut sholat Ied di Nagoya, penyelenggara mendapatkan ijin melaksanakan ibadah sholat di lapangan luar daerah terbuka yaitu Shirokawa Park. Sungguh hebat panitia sholat Ied Nagoya ini, untuk mendapatkan ijin ibadah dalam jumlah jamaah besar di dalam ruangan saja sulit, mendapatkan ijin pemda Nagoya untuk melakukannya di lapangan luar dengan resiko menarik perhatian orang banyak ternyata berlangsung dengan sukses. Anda tahu sendiri, di Indonesia saja intel bertebaran dimana-mana ketika orang ramai berkumpul mendengarkan ceramah atau pidato, apalagi di luar negeri yang notabene penduduknya mendapatkan pasokan informasi dari media barat yang penuh dengan isu terorisme dan isu pendatang gelap. Sukses buat panitia sholat Ied Nagoya!


Suasana setelah sholat Ied 1 Syawal 1430 Hijriah di Act City

Bagaimana dengan para muslim yang bekerja disaat lebaran, baik Idul Fitri maupun Idul Adha? Seperti yang kita ketahui, Jepang adalah negara industri yang sangat disiplin. Walaupun kita bisa saja minta ijin atau cuti di hari H satu atau setengah hari, tetapi jika skedul perusahaan sedang sibuk, jangan harap bisa memperoleh ijin. Hal yang sama juga berlaku bagi pelajar yang sedang menuntut ilmu di Jepang. Jika bentrok dengan waktu kuliah, silahkan bolos kuliah. Hanya saja tidak semua dosen yang terlalu ambil pusing dengan absen, jadinya pandai-pandai diri mengatur waktu. Kalaupun siswa yang bersangkutan masih bersekolah di SD, SMP atau SMU, mungkin dapat meminta pengertian guru sekolah bersangkutan. Karena itu, jika hari lebaran bertepatan dengan jadwal sholat Ied bisa dibilang merupakan berkah bagi mereka yang bekerja atau bersekolah.

Suasana sholat Ied 1430 Hijriah di Shirokawa Koen, Nagoya (foto oleh Iwan)

Setelah sholat Ied, kira-kira apa yang dilakukan? Jika mengacu pada kondisi di Indonesia terutama di kampung-kampung, bisa dipastikan sangat meriah dipenuhi dengan ajang silaturrahmi antar tetangga, sahabat dan handai tolan. Di jepang (dan kukira sama dengan di negara berpenduduk mayoritas non-muslim lainnya), umat muslim biasanya berkumpul di Masjid (jika ada) atau rumah salah seorang kenalan sambil berbagi makanan khas lebaran yang jarang disantap seperti ketupat. Tahun ini aku sendiri ikut serta di Masjid untuk bersilaturrahmi bersama umat muslim lainnya (walaupun yang kukenal dari para jamaah hanya belasan orang). Di Tokyo sendiri biasanya pihak KBRI menyediakan tempat sholat Ied sekaligus ruang untuk bersilaturrahmi setelah sholat Ied atau juga Dubes RI untuk Jepang mengadakan open house, lengkap dengan sajian penganan khas lebaran juga.


Suasana setelah sholat Ied 1 Syawal 1430 Hijriah di Shirokawa Park, Nagoya (foto oleh Iwan)


Setelah itu barulah masing-masing orang pulang ke rumah dan menghubungi pihak keluarga di Indonesia, baik orang tua maupun sanak saudara dengan telepon ataupun lewat jaringan internet. Bagaimanapun juga, suasana lebaran bagi yang jauh dari orang tua terasa sepi. Karena itu berbahagialah bagi anda yang berlebaran di kampung halaman dan dapat langsung mencium tangan orang tua selagi sempat dan masih memiliki waktu. Aku sendiri hanya bisa membayangkan wajah kedua orang tuaku sambil bersilaturrahmi lewat telepon dengan beliau.

Akhir kata, saya mengucapkan selamat Idul Fitri 1430 H. Mohon ma'af lahir dan bathin jika ada kata yang salah selama saya menulis di blog ini. Semoga Allah SWT mengijinkan kita kembali bertemu dengan bulan Ramadhan yang penuh rahmat tahun depan.

2009/05/21

Malunya ikut tes memperoleh SIM di Jepang

Sengaja kali ini aku membuat tulisan dengan bahasa Indonesia karena agak malu juga diriku bercerita tentang keburukan administrasi di negara sendiri.

Tanggal 18 Mei 2009 minggu lalu, aku pergi ke Menkyo Senta (kantor satlantas Jepang) untuk mengajukan permintaan penukaran unten menkyo (surat ijin mengemudi alias SIM) mobil dari SIM Indonesia menjadi SIM Jepang. Sebenarnya SIM Internasional dari beberapa negara diakui oleh satlantas Jepang, tetapi sayangnya SIM internasional dari Indonesia termasuk diantara SIM internasional yang tidak diakui, sehingga bagi pemilik SIM luar Jepang (tapi tak diakui) yang ingin mengendarai mobil/motor > 50cc mau tidak mau harus tukar SIM menjadi SIM Jepang. Bagi yang ingin tahu lebih jauh tentang pengalaman sulitnya memperoleh SIM di Jepang boleh membaca cerita mas Iwan diblog bawah ini:
Susahnya nyari SIM di Jepang


Tes bagi orang asing yang ingin menukar SIM meliputi 4 tahap yaitu wawancara, tes kesehatan (mata dan buta warna), tes tulis peraturan lalu lintas dan tes praktek. Tadinya tahap tes yang paling kukhawatirkan adalah tes praktek menyetir mobil yang kudengar dari pengalaman beberapa kenalan cukup sulit untuk langsung lulus sekali praktek. Ternyata aku malah langsung mendapatkan cobaan diawal yaitu pada saat wawancara.

Karena aku sudah memperoleh SIM motor gentsuki (baca tulisanku disini), petugas pewawancara meminta SIM motor Jepang plus SIM C (untuk motor dari Indonesia) asli untuk menyertai SIM A yang sudah kuserahkan sebelumnya. Disinilah letak permasalahannya dimulai. Dua SIM yang kumiliki ternyata menyimpan masalah yang sangat serius jika anda berada di Jepang. Silahkan bandingkan SIM A dan SIM C milikku dibawah ini:





Coba perhatikan data yang ditunjukkan dengan panah merah! Orang yang memiliki nama sama, alamat sama, foto sama, sidik jari sama, tanda tangan sama, diambil pada hari yang sama, dikantor satlantas yang sama, dengan cap dan tanda tangan Dirlantas yang sama, tapi ada dua data remeh yang berbeda dan membuat curiga polisi Jepang.
Data pada SIM A
Tinggi: 173 cm
Pekerjaan: Swasta

Data pada SIM C
Tinggi: 165 cm
Pekerjaan: Pelajar/Mahasiswa

Kalau anda polisi Jepang dan bertugas sebagai pewawancara bagi pemohon SIM Jepang, apakah tanggapan anda? Menganggap pemohon sebagai penipu? Menganggap negara asal si pemohon nggak benar ngurus administrasi? Atau menganggap satlantas negara si pemohon tukang kibul? Setengah bercanda (atau mengejek) beliau bertanya bagaimana cara tinggi badanku bisa bertambah 8 sentimeter dalam waktu satu hari. Hahahaha....

Untungnya walaupun si petugas galak dan aku habis diomelin sampai malu nggak bisa ngomong, dia tetap saja mengijinkan aku ikut tes tulis. Tetapi sebelum itu, aku tetap diwawancara secara detail tentang proses aku mengambil SIM di Indonesia dari cara daftar, ujian tulisnya berapa soal, bahan ujian tulis, hingga tes praktek. Untungnya aku pernah ikut ujian yang sebenarnya sampai tak lulus beberapa kali sebelum akhirnya terpaksa nembak..... uppssss....



Setelah diwawancara, aku ikut ujian tulis dan berhasil lolos untuk mengikuti ujian praktek mengendarai mobil. Ada 4 rute yang tersedia dan aku memperoleh bagian ujian di rute nomor 4. Sayangnya di ujian praktek aku harus mengakui kalau aku gagal. 3 orang yang ikut tes hari itu (2 orang lainnya adalah orang Brazil yang ikut sekolah menyetir) semuanya gagal dan diharuskan mengkuti ujian praktek lagi minggu yang akan datang. Sebelum dibubarkan, si petugas galak itu kembali menguliahi kami kembali tentang betapa menyetir mobil di Jepang sama saja dengan mempertaruhkan nyawa diri sendiri dan juga nyawa orang lain. Karena itu sebelum mengikuti ujian praktek diminggu yang akan datang, beliau menekankan agar kami belajar peraturan negara Jepang dalam berkendara di jalan. Toh kalau gagal lagi, yang rugi waktu dan uang adalah kami sendiri.

2009/04/07

Sakura, Hanami dan Sakuramichi

Catatan: Untuk memperbesar gambar, silahkan klik foto yang bersangkutan.

Awal bulan April adalah masa bunga Sakura mekar di Jepang. Orang Jepang yang seumur-umurnya tinggal di Jepang saja masih menantikan mekarnya Sakura, apalagi orang asing seperti aku yang cuma numpang tinggal di Jepang beberapa waktu saja. Seperti halnya gunung Fuji dan Kyoto, Sakura adalah salah satu dari tiga hal Jepang yang tak bosan-bosannya kunanti untuk dilihat.



Kastil Hamamatsu (didirikan oleh Shogun pertama dari klan Tokugawa, Tokugawa Ieyasu) pada musim semi



Jinja (Shrine) kecil disamping Kastil Hamamatsu

Mekarnya bunga sakura sangatlah cepat, hanya memiliki waktu selama 3 minggu saja untuk dinikmati. Karena itu setiap orang Jepang seakan-akan melakukan suatu ritual khusus untuk menikmati bunga Sakura. Yang paling dikenal adalah acara Hanami dan Sakuramichi. Sebenarnya hal ini bukanlah ritual melainkan sebuah kebiasaan di awal musim semi untuk melihat dan mengagumi bunga Sakura yang berumur pendek. Hanya 3 minggu, setelah itu anda harus menunggu satu tahun lagi.



Acara Hanami di Taman Hamamatsu-Jo. Orang-orang menggelar terpal dibawah pohon Sakura untuk Hanami



Jalur masuk utama Taman Hamamatsu-Jo

花見- Hanami (Hana = bunga ; mi = melihat) adalah acara kumpul-kumpul sambil gelar tikar (bisa juga matras, terpal atau lainnya) sambil menikmati pemandangan bunga Sakura mekar. Biasanya Hanami dilakukan orang Jepang sambil minum sake dan makan-makanan kecil (jaman sekarang malah ada yang barbeque). Menurut kabar, jaman dulu malahan orang-orang berlomba-lomba membuat puisi dan haiku (sajak Jepang) memuji keindahan Sakura pada saat acara Hanami.



Bunga Sakura mekar disepanjang jalan anak sungai Dankogawa (sungai Danko) di Tomizuka-cho



Jalan setapak untuk Sakuramichi ditepi Dankogawa. Jika mekarnya Sakura rimbun, jalan setapak terlihat mirip lorong dengan atap bunga Sakura

桜道- Sakuramichi (michi = jalan) adalah acara jalan kaki sambil menikmati bunga Sakura yang pohonnya tumbuh berjejeran di sepanjang jalan yang memang ditata khusus. Didaerah-daerah tertentu terutama dipinggir jalan kecil ataupun sungai, pohon Sakura sering kali ditanam dengan posisi khusus sehingga kalau bunganya mekar akan membentuk jejeran rimbun bunga Sakura yang indah untuk dipandang. Dibandingkan dengan Hanami, acara Sakuramichi kurang populer (sama dengan acara jalan-jalan, hanya saja pas kebetulan musim sakura).

Foto-foto diatas diambil di tepi sungai Danko daerah Tomizuka-cho (daerah tempat tinggalku), Kastil Hamamatsu dan Taman Hamamatsu-Jo, Propinsi Shizuoka dengan menggunakan Ponsel Casio Exilim W53CA dengan kamera 5.1 Megapixels..

2009/04/05

Pindahan........


Apartment lama tampak dari samping/depan.

Akhirnya setelah masuk daftar tunggu setahun, dapat juga jatah tinggal di Kokusai Kouryuu Kaikan (disingkat kaikan saja supaya gampang) milik universitas yang biaya sewa kamarnya super murah. Cuma 6 ribu yen/bulan! Bandingkan dengan sewa apartement lama ku yang termasuk "murah" seharga 23 ribu yen/bulan. Tentu biaya tempat tinggal ini sangat membantu diriku yang termasuk mahasiswa biaya sendiri, maklumlah otakku jauh dari encer untuk mendapatkan beasiswa. Memang sih ukuran kamarnya 2x4, lebih sempit dibanding apartment lama yang berukuran 3.5x4.5, namun didalam kaikan sudah tersedia ranjang, meja, lemari, kulkas dan juga termasuk pendingin/pemanas ruangan.



Apartemen lama (kiri) tampak dari belakang dan asrama mahasiswa kaikan (kanan) tampak dari depan.

Mungkin yang agak mengganggu adalah untuk mandi dan masak memerlukan biaya tersendiri. Sekali mandi (hanya shower, tanpa ofuro) dikenakan biaya 100 yen/13 menit. Sedangkan untuk biaya sekali masak (pakai gas) dikenakan biaya 10 yen (ukuran pemakaian gasnya kurang kuketahui). Nilai nominalnya mungkin termasuk murah tapi cukup ribet dibuatnya, karena sistem pembayarannya menggunakan koin seperti telpon umum. Masukkan uang logam (100 atau 10 yen) kedalam kotak koin pembayaran lalu anda bisa menggunakan fasilitas mandi dan dapur, sedangkan di apartment lama aku bisa mandi (plus ofuro) dan masak sesuka hati dengan total biaya listrik dan gas sekitar 10 ribu/bulan.

2009/03/30

Para Pendatang Gelap

Catatan: Ini hanyalah sebuah tulisan ringan

Masalah pendatang gelap merupakan masalah krusial bagi negara manapun dalam menghadapi imigran dari luar negeri. Negri jiran sekalipun cukup dipusingkan dengan masalah pendatang haram dari Indonesia sehingga menimbulkan rasa antipati terhadap pendatang dari negara tetangga yang kadang disebut dengan kata berkonotasi negatif Indon. Akhir-akhir ini Jepang, kantor imigrasi Jepang semakin memperketat jalur masuk dan ijin tinggal para imigran di Jepang. Tapi tetap saja yang namanya pendatang gelap punya trik-trik baru untuk mengakali peraturan baru keimigrasian. Kelihatannya semakin ketat peraturan akan semakin menantang para pendatang gelap untuk memanipulasi celah-celah kecil peraturan keimigrasian.


Iklan layanan masyarakat untuk mematuhi peraturan keimigrasian termasuk larangan tinggal di Jepang sebagai imigran gelap

Beberapa bulan terakhir, berita mengenai pendatang gelap atau dalam bahasa Jepang 不法滞在 (Fuhou Taizai) asal Filipina yang memiliki anak yang lahir dan besar di Jepang ramai menghiasi media Jepang. Arlan Cruz Calderon (36) dan istrinya Sarah terbukti melanggar peraturan keimigrasian dengan menggunakan paspor palsu untuk mendapatkan ijin tinggal di Jepang selama 17 tahun. Jaman dulu mungkin Arlan bisa saja memanipulasi data yang dikerjakan pihak imigrasi secara manual. Tetapi setelah belasan tahun lewat dan imigrasi Jepang mulai dilengkapi sistem komputerisasi canggih membuat penipuan belasan tahun tersebut terbongkar. Masalahnya, Sarah melahirkan anak bernama Noriko Calderon 13 tahun yang lalu di negara yang menganut prinsip jus sanguinis seperti Jepang. Kewarganegaraan Noriko menurut sistem Jepang adalah Filipina dan ketika kedua orang tuanya dideportasi kembali ke Filipina, menurut peraturan Noriko juga harus dideportasi. Noriko yang lahir dan besar di Jepang dididik dan bergaul didalam dan luar rumah dengan bahasa Jepang, bahkan untuk berkomunikasi dengan kedua orangtuanya sekalipun. Noriko sama sekali tak bisa berbahasa Tagalog (bahasa Filipina), sehingga bisa dikatakan Noriko secara mental dan sosial budaya adalah orang Jepang. Berkat simpati masyarakat Jepang terhadap Noriko, pihak imigrasi Jepang memutuskan bahwa Noriko berhak tinggal dan menyelesaikan sekolahnya di Jepang. Anda bisa membaca tulisan tentang kisah Noriko bawah ini.

http://community.kompas.com/read/artikel/2532


Kasus lainnya terjadi didepan mata kepalaku sendiri ketika aku sedang mengurus masalah administrasi di kantor imigrasi. Detail kejadiannya tentu saja aku tidak tahu pasti, tetapi berkat petugas administrasi yang terdengar kesal membuat suaranya yang cukup keras bisa didengar orang-orang yang berada disekitar front office imigrasi. Adalah seorang pria Vietnam yang menikah dengan wanita Jepang datang ke kantor imigrasi untuk mengurus ijin tinggal di Jepang. Pria tersebut memperlihatkan surat nikahnya dengan wanita Jepang dengan status duda cerai terhadap mantan istrinya (orang Vietnam juga) yang tinggal di Vietnam. Tanggal perceraian dan pernikahan barunya tidak berselisih terlalu jauh sehingga menimbulkan kecurigaan pihak imigrasi Jepang. Mungkin bagi orang lain hal ini tidak aneh, tetapi bagi pihak imigrasi Jepang yang semakin hari semakin super ketat hal ini termasuk mencurigakan. Entah bagaimana akhir dari kisah pria Vietnam ini, yang pasti sang petugas administrasi menyuruhnya pulang terlebih dahulu.

Mengenai kasus yang dialami orang Indonesia tentunya cukup banyak kuketahui, baik dari pihak kenalanku yang kabur (biasanya disebut OS: Over Stay) maupun dari cerita orang-orang yang berhubungan dengan orang OS. Yang masih lekat diingatanku adalah kasus kaburnya 20 penari yang datang untuk menampilkan tarian tradisional di stand Indonesia dalam AICHI EXPO (AICHI BANPAKU) pada tahun 2005. Setelah acara EXPO selesai, 20 penari yang dijadwalkan pulang lenyap dari hotel tempat mereka menginap. Yang lebih memalukan, kasus 20 penari kabur inii menghiasi acara berita Televisi Jepang. Selain kasus pelajar dan (pendatang dengan visa) turis kabur, prosentase OS terbesar mungkin berasal dari 研修生- Kenshusei atau pekerja training (magang) yang kabur sebelum kontraknya berakhir.


Stand Indonesia dalam Aichi Expo 2005 tempat 20 penari tradisional manggung sebelum kabur

Akhir-akhir ini orang-orang OS merasakan penderitaan menjadi OS di Jepang dengan semakin buruknya perekonomian Jepang akibat krisis ekonomi global. Bayangkan saja, tinggal di Jepang yang dikenal dengan biaya hidupnya yang mahal tetapi dengan penghasilan (gaji) yang semakin menipis akibat pabrik tutup ataupun pengurangan tenaga kerja. Orang asing yang tinggal secara legal di Jepang saja sudah mulai mengap-mengap, bagaimana dengan yang tinggal secara gelap? Selain selalu khawatir tertangkap polisi/pihak imigrasi dan hidup berpindah-pindah, ditambah dengan kondisi ekonomi yang semakin parah membuat hidup sebagai OS di Jepang semakin sulit. Kita semua tahu kalau alasan utama pendatang gelap adalah motif ekonomi. Jika motif tersebut tidak membuat perekonomian mereka semakin membaik, entah apa yang akan mereka lakukan. selain pilihan alternatif "menyerahkan diri" untuk dipulangkan ke Indonesia. Selain itu, citra orang asing yang tinggal legal di Jepang semakin jelek dengan keberadaan orang-orang OS (baca tulisan link diatas).

Bagaimana dengan pendapatku sendiri tentang pendatang gelap? Menurutku sih jika awalnya sendiri sudah berbohong, maka rentetan panjang kebohongan itu akan terus berlanjut untuk menutupi kebohongan pertamanya. Aku banyak melihat bagaimana orang-orang OS justru memperdayai orang lain (termasuk saudaranya sebangsa dan setanah air) demi eksistensi dan keuntungan pribadi mereka. Dengan kata lain, aku tidak setuju dengan kehadiran pendatang gelap dan aku sendiri tidak tertarik untuk menjadi pendatang gelap itu sendiri.

link tulisan lain yang berhubungan:

Imigran Gelap di Indonesia

2009/02/08

Melamar kerja disaat krisis di Jepang

Bulan Januari hingga Maret adalah masa para mahasiswa tingkat akhir di universitas-universitas Jepang untuk melakukan 就職活動 (shuushoku katsudo), semacam kegiatan mencari kerja. Yang dimaksud tingkat akhir disini adalah tahun ke-3 bagi S1, tahun pertama bagi yang S2 dan tahun ke-2 bagi yang S3. Memang kebiasaan mahasiswa perguruan tinggi mencari kerja di Jepang dilakukan sebelum satu tahun jadwal kelulusan. Mahasiswa S2 di laboratorium penelitianku yang melaksanakan shuushoku katsudo sekarang direncanakan akan lulus pada bulan April tahun 2010.

Kegiatan ini agak berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya akibat situasi ekonomi yang kurang bagus karena tingginya nilai mata uang Yen Jepang di dunia. Otomatis banyak industri yang kolaps, pabrik tutup dan akhirnya PHK dimana-mana. Karyawan lamanya saja di PHK, bagaimana mau merekrut karyawan baru? Anak-anak mahasiswa S1 yang akan lulus April tahun 2009 nanti saja banyak yang kalang kabut akibat perusahaan yang telah menerima mereka tahun lalu terpaksa membatalkan rencana perekrutan akibat kebijakan pengurangan pegawai. Mau bagaimana lagi, terpaksa mereka mencari lowongan kerja baru sambil berkutat menyelesaikan skripsi TA mereka.


Sebuah kigyou setsumeikai yang diadakan universitas dengan mengundang berbagai macam perusahaan yang tertarik merekrut lulusan mereka


Bagaimana dengan pandangan perusahaan yang ingin merekrut karyawan baru lulusan perguruan tinggi? Tahun-tahun belakangan pasaran tenaga kerja di Jepang di kenal dengan nama 売り手市場 (urite shijou) atau seller’s market akibat banyaknya jumlah pekerja usia lanjut yang pensiun sehingga perusahaan membutuhkan banyak tenaga kerja baru sebagai pengganti. Ketika krisis ekonomi mulai melanda Jepang di pertengahan tahun 2008 pola perekrutan tenaga kerja tiba-tiba saja berubah terbalik menjadi 買い手市場 (kaite shijou) alias buyer’s market dan menyebabkan perusahaan sangat berhati-hari merekrut tenaga kerja baru.

Selain itu juga banyak HRD perusahaan yang mengeluhkan para pelamar tahun-tahun terakhir “lack common sense”. Pernah ada kejadian ketika sebuah perusahaan menyodorkan tawaran pekerjaan kepada seorang lulusan baru, jawaban penolakan yang didapat justru dalam bentuk e-mail keitai (hand-phone) disertai karakter emosi seperti   :P , dll.
HRD perusahaan lain menceritakan betapa dia pernah bertemu dengan seorang lulusan baru pada sebuah sesi wawancara mengatakan, “Bagaimana anda bisa tahu saya ini seperti apa hanya dengan wawancara 15 menit saja!”
Pada kesempatan lainnya HRD sebuah perusahaan apparel juga menceritakan seorang mahasiswi lulusan baru yang sedang diwawancara mengatakan, “Apakah perusahaan anda merupakan tempat bekerja yang menyenangkan? Tolong kasih tahu saya, apa saja yang dilakukan para staff untuk bersenang-senang.”

Bagaimana hal ini bisa terjadi? Menurut seorang konsultan senior HRD Fujikawa Takanori, para siswa tidak serius berkomunikasi dengan perusahaan mengacu pada perekrutan melalui internet. Seperti yang diketahui, sejak tahun 2000 penggunaan massif internet sebagai sarana komunikasi pelamar kerja dengan perusahaan menyebabkan para pelamar tinggal duduk dan mencari kerja lewat job search engine seperti rikunabi. Dengan cara seperti ini, para siswa cenderung kurang serius sewaktu melamar kerja dan terbukti sejak berlakunya metode ini jumlah pelamar yang menolak lamaran meningkat hingga 20 persen. Memang problem utamanya bukanlah dari pihak pelamar ataupun perusahaan yang dilamar, tetapi masalah komunikasi anata kedua belah pihak. Kalau anda tanya para mahasiswa pelamar tentang pemakaian internet sebagai sarana mencari kerja, tentu mereka akan menjawab, “Praktis!” Praktis dalam soal melamar atau praktis dalam hal menolak? Walahualam…..
Yang pasti, para lulusan yang memiliki keahlian/pengetahuan khusus dan spesifik tentu memiliki kesempatan yang lebih mudah untuk mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan bidangnya beserta pendapatan yang lumayan memuaskan.

Sumber:
- Dari berbagai macam media Jepang.
- Hasil obrolan dengan Takero, Dai, Uchida, dan Matsuyama (thank you guys).

NB. Melamar lewat internet hanya tahap awal saja, setelah disetujui oleh kedua belah pihak, mulailah sesi 企業説明会(kigyou setsumeikai) dan 面接 (mensetsu) beruntun hingga tahap akhir penerimaan karyawan.

Kosa kata:
就職活動 – Shuushoku katsudou = Aktivitas mencari/melamar pekerjaan
売り手市場 – urite shijou = Seller’s market, kondisi pasar yang lebih banyak pembeli (perusahaan) dari pada penjual (pelamar kerja)
買い手市場 – Kaite sijou = Buyer’s market, kebalikan dari Seller’s market
企業説明会 – Kigyou setsumeikai = Ajang presentasi untuk penjelasan mengenai perusahaan (visi, produk,dll) bagi para pelamar yang tertarik.
面接 – mensetsu = Wawancara

2009/01/19

Industri yang tidak terpengaruh krisis

Di daerah Yurakucho pusat kota Tokyo, tepatnya di gedung Tokyo International Forum tampak gadis-gadis muda cantik nan seksi berkumpul akhir desember tahun lalu. Ada apakah gerangan? Akhir desember adalah saat banyak perusahaan menyelenggarakan bounenkai (semacam pesta tutup tahun) dengan para karyawannya. Kumpulan cewek-cewek cakep dan seksi itu juga sedang melaksanakan bounenkai seperti karyawan perusahaan lainnya, hanya saja mereka adalah karyawan industri film porno. Menurut kabar orang dalam, mereka sedang merayakan stabilnya kondisi pasar perfilman porno di Jepang.

Ketika industri otomotif dan elektronik sedang gencar memangkas produksi, jumlah karyawan dan ongkos demi menyelamatkan industri mereka, industri film porno justru terlihat tidak terpengaruh imbas krisis ekonomi moneter. Menurut salah satu peserta bounenkai, hadiah permainan bingo dalam pesta saja memasukkan acara jalan-jalan ke luar negeri. Belum lagi aktris top andalan perusahaan mereka mendapatan bonus dari jumlah setengah juta hingga 1 juta yen. Pokoknya setiap orang terlihat berhura-hura. Sampai-sampai seorang tamu merasa acara ini terlalu menyolok mengingat orang-orang lain sedang berhemat mengencangkan tali ikat pinggang mereka akibat resesi ekonomi..


Interior lantai dasar dalam gedung Tokyo International Forum

Tidak semua tamu merasa risih seperti yang dikemukakan diatas. Beberapa tamu lain malah merasakan kalau acara pesta kurang mantap dan kurang seksi, malah mereka berharap lebih gila-gilaan mengingat penyelenggara adalah produser film porno. Tak tahunya para produser hanya menyelenggarakan pesta biasa lengkap dengan hiburan para penyanyi terkenal diatas panggung, tanpa ada hal-hal aneh dan vulgar.

Para pekerja industri pornografi ini menyatakan bahwa perusahaan mereka mendapatkan keuntungan dalam berbisnis berkat deretan av idol terkenal yang terikat kontrak dengan perusahaan sebagai mesin uang mereka. Tak perduli betapa buruknya kondisi ekonomi dan resesi yang melanda Jepang, selalu saja ada permintaan konsumen untuk produk mereka.

Terlepas dari krisis ekonomi ataupun krisis moral, Maria Ozawa dkk akan tetap eksis dan siap memenuhi permintaan pelanggan dengan produk-produk mereka. Adakah yang masih mau bilang seluruh industri terimbas krisis moneter? Yang satu ini sepertinya tidak.

AV idol = Adult Video idol = Artis film dewasa (porno).

(sumber: dari berbagai macam media cetak Jepang)

2009/01/18

Krisis Ekonomi di Jepang dan Industri Otomotif

Catatan: Saya bukan pengamat ekonomi profesional, apalagi ahli ekonomi.

Semenjak berawalnya krisis moneter di USA, hampir seluruh negara yang berhubungan dengan USA, baik secara politik maupun ekonomi ikut terimbas. Jepang yang notabene termasuk negara yang memiliki pondasi ekonomi kuat juga ikut kena imbasannya. Bagaimana tidak, banyak produk Jepang (terutama industri mobil) yang dipasarkan di USA harus mengalami penurunan tingkat penjualan akibat besarnya nilai tukar Yen (mata uang Jepang) terhadap Dollar (mata uang USA). Di Jepang sendiri istilah Endaka kembali melesat menjadi kata yang sering diucapkan oleh para pengamat ekonomi amatiran maupun professional.
(En = cara orang Jepang menyebut Yen, Daka = Taka = tinggi, Endaka = tingginya nilai Yen)


Dengan penurunan penjualan, otomatis produksipun ikut berkurang ditambah dengan ongkos produksi yang turut membengkak dan turunnya daya beli masyarakat terhadap produk Jepang diluar negeri. Yang paling merasakannya adalah industri mobil, baik produsen langsung yaitu pabrik-pabrik raksasa maupun industri penyangganya (sub-kontraktor) yang berupa pabrik-pabrik kelas menengah kebawah. Perusahaan kecil tempat aku pernah Arubaito (kerja sambilan) yang mengerjakan spare part pabrikan mobil HONDA juga akhirnya tutup dan pemiliknya akhirnya ikutan kerja sebagai karyawan biasa di pabrik induknya. Masih untung bagi beliau yang masih bisa bekerja, banyak karyawan lain justru harus pasrah di kubi (istilah Jepang untuk PHK) atau dengan bahasa halusnya resutora (dari kata restrukturisasi).

Yang terlihat paling menderita adalah pabrikan kendaraan bermotor, khususnya mobil dan perusahaan alat-alat elektronik. Perusahaan elektronik raksasa SONY dikabarkan akan merampingkan jumlah karyawannya dengan mem-PHK 8.000 orang karyawannya, grup TOYOTA sendiri berencana memangkas hingga 3.000 orang, lalu disusul NISSAN dan HONDA dengan rencana meng-kubi hingga 1.500 orang karyawan mereka masing-masing. Ingat! Ini hanya perusahaan induk, tidak termasuk sub-kontraktor mereka. Bayangkan saja pabrik mobil TOYOTA yang akan memecat 3.000 orang karyawannya, bagaimana pula dengan pabrik-pabrik lain yang memproduksi spare part untuk suplai mobil TOYOTA seperti dashboard, kaca, lampu, rem, jok mobil hingga kaca spion? Ini hanya TOYOTA saja, belum lagi pabrik penyuplai komponen otomotif merek raksasa lain seperti NISSAN, HONDA, dll sehingga angka-angka diatas bisa melampaui jumlah karyawan SONY yang di-kubi. Bagaimana dengan pekerja kontrak? Sebelum mereka memberhentikan para karyawan tetap, tentu saja pekerja kontrak sudah terlebih dahulu diputuskan kontraknya secara sepihak.


Salah satu contoh kei-jidousha produksi SUZUKI

Kemanakah nama industry mobil besar SUZUKI? Ternyata walaupun grup SUZUKI juga terkena imbas krisis, mereka sedikit lebih mendingan dari pada grup-grup besar diatas. Hal ini disebabkan oleh orientasi produksi mobil SUZUKI di Jepang yang lebih memfokuskan konsumsi dalam negeri. Di tahun-tahun terakhir sebelum krisis moneter USA, ketika TOYOTA, NISSAN dan HONDA sedang memusatkan perhatian mereka untuk ekspansi penjualan di luar negeri khususnya USA dan negara-negara Eropa, grup SUZUKI ternyata lebih memilih untuk meraih pasar dalam negeri dengan memperbesar jangkauan penjualan Kei-Jidousha (mobil dengan cc kecil sekitar 660 cc semacam karimun). Paling tidak strategi grup SUZUKI cukup sukses untuk lebih bisa bertahan dibandingkan grup besar lain, walaupun faktor keberuntungan tidak terlepas dari strategi pemasaran tersebut.

(sumber: dari berbagai macam media Jepang)

2009/01/16

Kanamara Matsuri di Kawasaki, Jepang

Catatan: Postingan ini membicarakan festival budaya.

Kalau ngomong soal yang aneh-aneh, Jepang termasuk jagoannya. Dari soal makanan, festival sampai kuil, ada saja yang aneh. Pernahkah anda membayangkan ada kuil yang nyerempet-nyerempet tema seks? Postingan ini membahas festival yang diselenggarakan berdasarkan tema tersebut.

Ada dua masturi (Japanese festival) terkenal di Jepang yang dilaksanakan berdasarkan tema berkenaan dengan seks yaitu Kanamara Matsuri dan Hounen Matsuri. Seperti umumnya matsuri di Jepang yang disponsori oleh Jinja (kuil Shinto) atau Otera (kuil Buddha), kedua matsuri ini juga disponsori oleh Jinja setempat. Yang pertama Kanamara Matsuri diselenggarakan oleh Kanayama Jinja, sedangkan Hounen Matsuri diselenggarakan oleh Tagata Jinja di propinsi Aichi dekat Nagoya. Kali ini saya hanya membahas Kanamara Matsuri (Festival phallus besi) saja.


Mikoshi berbentuk phallus siap untuk dipanggul dan diarak dari Jinja

Kanamara Matsuri (かなまら祭) biasanya diselenggarakan pada hari minggu pertama pada awal bulan april di daerah Kawasaki, propinsi Kanagawa, Jepang. Menurut legenda setempat yang berdasarkan cerita Kojiki bagian kisah Kagutsuchi si dewa api, seorang gadis cantik dirasuki oleh setan jahat yang telah mengebiri dua mempelai prianya pada malam pengantin dengan menggunakan gigi setannya. Setan jahat ini dibasmi oleh seorang tukang besi yang bersenjatakan batangan besi berbentuk phallus yang merontokkan gigi si setan jahat. Senjata si tukang besi inilah yang menjadi pertanda Kanayama Jinja dan juga tema Kanamara Matsuri yang sudah diselenggarakan sejak jaman Edo. Menurut kabar, pada jaman Edo para PSK ramai mengunjungi Kanayama Jinja untuk meminta perlindungan dari penyakit (jaman itu sipilis kali?) serta keberuntungan dalam berbisnis. Hal ini berlanjut ke masyarakat sekitar yang ramai mengunjungi kuil terutama untuk memohon kesuburan (memperoleh keturunan) hingga melahirkan tradisi matsuri unik ini.


Menunggang phallus pahatan dari kayu

Jaman sekarang festival ini dijadikan ajang untuk pengumpulan dana memerangi HIV dan penyakit AIDS selain tentu saja sebagai atraksi wisata hiburan dengan adanya mikoshi - 神輿(miniatur perwakilan Jinja yang dipanggul keliling) juga arak-arakan. Pada hari matsuri (mungkin juga pada hari biasa) banyak sekali dijual bermacam-macam aksesoris dan makanan khas matsuri. Khas Kanamara Matsuri? Hehehe.... tentu saja barang khas matsuri yang satu ini adalah phallus dan pasangannya. Dari pajangan, gantungan kunci hingga permen lollipop. Kebayang nggak menghisap permen lollipop berbentuk phallus? Festival yang gila beginian mungkin cuma ada di Jepang.


Itu tuh lollipop khas Kanamara Matsuri (ada yang mau??)

2008/12/27

Merry Christmas and Happy New Year

Tulisan diatas banyak ditemukan di sepanjang jalan di jepang, terutama disekitar pusat keramaian kota-kota besar pada hari-hari menjelang natal dan tahun baru. Malah jika anda tinggal di Jepang anda akan mendapatkan banyak penawaran dalam menyambut natal dan tahun baru, baik itu berupa penjualan kue dan pernak pernik natal ataupun acara pesta. Apakah ini merupakan suatu gejala masyarakat Jepang banyak yang tertarik memeluk agama Kristen? Terlebih dahulu mari kita bagi 2 ucapan diatas dalam topik pembicaraan masing-masing.


Suasana didepan stasiun Nagoya yang dihiasi ornamen bersuasana Natal

Merry Christmas
Boleh dikatakan orang-orang Jepang sebagian besar agnostik kalau bukan atheis. Kalaupun mau dikelompokkan menurut ajaran agama, mereka adalah penyembah berhala modern dalam artian kata memuja materi (baik berupa harta maupun ilmu pengetahuan). Lalu bagaimana bisa masyarakat Jepang ikut merayakan natal? Mungkin jawabannya adalah glamour dan meriahnya suasana natal yang merupakan produk budaya Eropa. Penjelasan lebih lanjut lihat sini.

Perayaan natal jaman sekarang menjadi produk kapitalis dan konsumerisme yang tentu saja menarik minat masyarakat Jepang terutama kaum mudanya yang materialistis. Anda akan mendapatkan beberapa ungkapan menarik di Jepang sehubungan dengan hal ini, misalnya saja malam natal (Christmas eve) adalah malam yang romantis untuk mengadakan candle light dinner bersama sang pacar.

Alasan lainnya adalah natal merupakan suatu peristiwa budaya yang cukup menarik untuk dirayakan bersama-sama. Sekali lagi ini adalah peristiwa budaya, bukan agama. Jadinya sah-sah saja bagi mereka yang non-kristen untuk turut merayakannya. Ada sebuah joke menarik tentang peristiwa budaya ini.
“Orang Jepang dilahirkan sebagai Shinto, menikah sebagai Kristen, mati sebagai Buddha”.
Maksudnya adalah orang Jepang ketika bayi dibawa ke Jinja (kuil Shinto) untuk diberi nama, menikah di gereja, ketika mati di kremasi secara Buddhisme.

Walaupun cuma kalimat candaan, tapi banyak orang Jepang yang mengikutinya. Taruhlah kita bisa mengerti kalau pemberian nama di kuil Shinto dan kremasi secara Buddhisme merupakan produk budaya Jepang lama (Shinto produk asli Jepang dan Buddhisme masuk Jepang akhir abad 6 M), menikah di Gereja juga merupakan produk budaya modern yang merasuki Jepang, terutama budaya Eropa yang lengkap dengan pernak pernik seperti gaun pengantin yang cantik hingga ucapan “you may kiss the bride” disukai kaum muda di Jepang.


Suasana natal di sekitar Tokyo Tower, lengkap dengan pohon natal dan illumination

Belum lagi kebiasaan baru memasang lampu kerlap kerlip yang bukan hanya menghiasi pohon natal saja. Lampu-lampu kecil yang disebut illumination ini banyak menghiasi berbagai pelosok untuk ikut serta memeriahkan suasana natal dan tahun baru. Efek lampu illumination biasanya disebut shoumei (照明), sehingga penggunaan kata illumination dengan tulisan katakana イルミネーション menempati penggunaan kata tersendiri.

Happy New Year
Acara tahun baru memiliki sejarah yang sangat berbeda dengan acara natal, walaupun ucapan selamat natal sering dipadukan dengan ucapan selamat tahun baru. Di Jepang sendiri setelah hari natal lewat, ucapan selamat tahun baru dilakukan dengan bahasa Jepang tanpa embel-embel christmas (クリスマス). Setelah natal lewat, tahun baru adalah acara yang berdiri sendiri (berbeda dengan penganut agama Nasrani dan komunitas Eropa). Ini adalah bukti bahwa perayaan natal bagi masyarakat Jepang non-kristen tidak berkaitan dengan agama.

Acara tahun baru Jepang dan China memiliki beberapa kesamaan, malah pada awalnya tahun baru Jepang dirayakan bersamaan dengan tahun baru Imlek. Seperti yang kita ketahui bahwa budaya Jepang, Korea, Vietnam dan beberapa negara lain banyak dipengaruhi oleh China, termasuk sistem penanggalan (kalender). Pada jaman restorasi Meiji tahun 1873, pemerintah Meiji menetapkan sistem penanggalan baru yang berdasarkan kalender masehi. Otomatis perayaan tahun baru yang semulanya dirayakan pada awal musim semi berubah mengikuti kalender masehi yang bertepatan pada tanggal 1 Januari. Walaupun demikian, perayaan tahun baru Jepang memiliki keunikan tersendiri dibandingkan negara-negara lain yang juga menganut sistem penanggalan masehi. Beberapa diantaranya:

1. Saling mengirim kartu pos alias nengajo (年賀状). Di Negara barat dan Indonesia mungkin dapat dianggap seperti kartu ucapan natal dan kartu lebaran. Biasanya dikirim sebelum akhir Desember sehingga Pak Pos di Jepang dapat mengirimkannya sampai dirumah tujuan pagi hari tepat pada tanggal 1 Januari.


Nengajo tahun 2009 yang menurut kalender China merupakan tahun sapi

2. Pengaruh budaya China masih bisa terlihat pada pemberian Otoshidama (お年玉) atau didalam budaya China biasanya disebut Hongbao alias Angpao (amplop merah) dalam dialek hokkian. Kalau di China biasanya diberikan dalam amplop berwarna merah (sesuai dengan namanya), di Jepang tidak demikian. Warna amplop relatif bebas walau warna dasar amplop umumnya putih yang disebut pochibukuro (点袋) dan biasanya diatas amplop dituliskan nama sang penerima.


Beberapa contoh otoshidama (お年玉)

3. Jika dinegara lain kebanyakan melaksanakan pesta hura-hura menyambut tahun baru dengan pesta kembang api, di Jepang justru sebaliknya. Masyarakat Jepang kebanyakan lebih memilih berkumpul sesama keluarga, makan mie soba bersama, lalu sekeluarga pergi ke Jinja (kuil Shinto) atau Otera (kuil Buddha) untuk berdoa. Tahun baru merupakan hari untuk berkumpul dengan keluarga. Kalau di Indonesia menyambut hari lebaran adalah hari mudik, maka di Jepang hari mudik nasional adalah pada saat menyambut tahun baru.

4. Ada kebiasaan masuk Ofuro (berendam di bathtub) dipagi hari pada hari tahun baru yang disebut asafuro. Walaupun ada orang yang melakukannya diwaktu yang tak ditentukan, tetapi kebiasaan ofuro dipagi hari hanya ada pada saat tahun baru.

Ada beberapa ucapan selamat tahun baru di Jepang. Ingat, ucapan sebelum dan sesudah tanggal 1 Januari (tengah malam) tidaklah sama. Dibawah ini ada 2 contoh pengucapan selamat tahun baru.

- Sebelum tanggal satu biasanya mengucapkan:
良いお年を迎え下さい – Yoi otoshi wo mukaekudasai
Atau biasanya disingkat dalam pengucapan menjadi
良いお年を – Yoi otoshi wo

- Setelah tanggal satu biasanya mengucapkan

(新年)明けましておめでとございます。今年もよろしくお願いします
(Shin nen) akemashite omedeto gozaimasu. Kotoshimo yoroshiku onegaishimasu
Kadang disingkat menjadi
明けましておめでとございます – Akemashite omedeto gozaimasu.

Karena pada saat posting, tahun baru masih belum lewat maka saya mengucapkan:
良いお年を (Yoi otoshi wo)

2008/12/09

Hongkat (HObi siNGKATan)

Sewaktu baru tiba di Jepang dan bahasa Jepangku masih hancur-hancuran, kadang dalam keadaan bingung kucoba untuk mencampurnya dengan bahasa Inggris. Hasilnya justru makin kacau, terutama dalam menyebut beberapa istilah bahasa Inggris yang orang Jepang suka menyingkatnya. Hingga kini hal seperti ini kadang masih terjadi. Ternyata orang Jepang sama saja dengan orang Indonesia yang hobi menyingkat kata, akan tetapi kalau bicara metoda penyingkatan kata yang kacau balau, Indonesia masih lebih unggul. Apalagi jika kata hasil singkatan tersebut lebih terdengar keren, tentu akan dengan senang hati dipakai. Contoh saja kata PEMILU yang tidak seimbang untuk menyingkat kataPEMILihan Umum, atau SEMBAKO yang merupakan kependekan SEMbilan BAhan poKOk. No comment deh buat membahas akronim ala orang Indonesia (lihat aja judul yang gue bikin).



省略 (shouryaku) alias singkatan, begitulah orang Jepang menyebutnya. Hampir sebagian besar singkatan yang dipakai merupakan bahasa asing, terutama bahasa Inggris. Walaupun ada juga bahasa Jepang yang disingkat, tetapi jumlahnya tidak banyak. Yah, mungkin hal ini dilakukan supaya orang Jepang yang punya lidah sulit untuk mengucapkan bahasa Inggris dengan aksen yang benar menjadi lebih mudah menggunakannya.

Beberapa contoh yang sering dipakai (biasanya ditulis dengan huruf katakana):
Singkatan – Kalimat asli – Aksen pengucapan Jepang (Katakana)

Conveni – Convenience Store – Konbini (コンビニ)
Depart – Department Store – Depaato (デパート)
Air Con – Air Conditioner – Eakong (エアコン)
Remo Con – Remote Control – Rimokong (リモコン)
Car Navi – Car Navigator – Kaanabi (カーナビ)
Beit – Arbeit (bhs. Jerman) – Baito dari Arubaito (アルバイト)
Perso Con – Personal Computer – Pasokong (パソコン)
Cos Play – Costume Play – Kosupure (コスプレ)

Contoh kalimat asli jepang:
知財 (Chizai) - 知的財産 (Chitekizaisan) – kekayaan intelektual
就活 (shuukatsu) - 就職活動 (Shuushoku katsudou) - Aktivitas melamar pekerjaan

Beberapa nama penyanyi, grup band dan selebritis yang lumayan panjang juga disingkat oleh para fansnya seperti L'arc en Ciel jadi Laruku (ラルク), Mr. Children jadi Misuchiru(ミスチル) atau Kimura Takuya (木村拓哉) jadi Kimutaku (キムタク). Malah bintang film barat kayak Brad Pitt (jepang: Buraddo Pitto) tak lepas dari jeratan akronim menjadi Burapi (ブラピ). Belum lagi jaman sms kayak sekarang, tentu saja kata-kata panjang akan menjadi semakin pendek, hanya saja pemakai singkatan sms dengan istilah khusus kebanyakan kaum muda. Dengan semakin maraknya komunikasi lewat sms, singkatan-singkatan kalimat asli bahasa Jepang khas anak muda juga semakin banyak sekaligus juga tidak dimengerti masyarakat umum terutama orang tua.

2008/11/01

Akademi Pachinko

Apa? Ada sekolah pachinko di Jepang? Begitulah kira-kira kesan pertama saya pada saat membaca berita di sebuah media cetak di Jepang. Walaupun memang pachinko merupakan sebuah industri raksasa di Jepang yang banyak menghasilkan uang, tetapi untuk urusan sekolah pachinko masih merupakan hal yang baru bagi saya. Mungkin karena saya menganggap pachinko sebagai arena judi yang tidak termasuk kategori untuk dipelajari di sekolah.

Bagi anda yang masih bingung dengan istilah pachinko itu seperti apa, anda bisa mencari infonya di Wikipedia. Singkatnya pachinko adalah sebuah permainan yang menggunakan mesin yang disebut pachinko parlor yang didesain seperti gabungan antara mesin slot dan pinball. Pachinko ini banyak ditemui di Jepang dan Taiwan, tetapi mungkin sulit ditemukan diluar kedua negara tersebut.

Suasana dalam pachinko dengan para pengunjung

Kembali ke masalah akademi pachinko, para murid yang belajar di sekolah ini berkisar antara 19 hingga 25 tahun dengan tidak menutup kemungkinan bagi para pekerja didunia bisnis pachinko yang ingin menambah ilmu untuk ikut belajar. Pelajaran yang diberikan mulai dari sistim dasar kerja mesin pachinko parlor, program animasi permainan, hingga marketing dan manajemen industri pachinko. Malah sekolah ini dilengkapi dengan laboratorium pachinko yang didesain mirip dengan suasana pachinko lengkap dengan mesin pachinko yang diatur berderet. Menurut kepala sekolah G&E Bussines School, sebuah akademi pachinko yang berdiri sejak 2006, kebanyakan lulusan sekolah mereka bekerja di pabrik pembuat mesin pachinko besar seperti Sankyo, Maruhan dan Sammy juga sebagai staff pengiklanan dan marketing di perusahaan pachinko.


Para siswa di laboratorium pelatihan akademi pachinko

Bisnis pachinko memang menggiurkan bagi para pengusaha di Jepang, mengingat jumlah para pengunjung yang menghabiskan uangnya di pachinko relatif besar. Apalagi jika melihat prosedur pendirian pachinko yang tidak terlalu rumit, asalkan sudah berjarak lebih dari 50 meter dari sekolah dan rumah sakit sebuah pachinko dapat didirikan. Untuk membayangkan betapa berlimpahnya uang bisnis pachinko, presiden direktur Sankyo dan Maruhan masing-masing masuk sebagai 40 besar daftar orang terkaya di Jepang oleh majalah Forbes.

Hanya saja perlu diingat, bisnis pachinko sulit sekali untuk bisa dilepaskan dari aktifitas Yakuza, gangster Jepang. Asal tahu saja, Yakuza berusaha untuk meninggalkan bisnis illegal dan memasuki berbagai area bisnis yang ditetapkan legal oleh pemerintah Jepang termasuk bisnis pachinko dan bisnis pertanahan. Memang pachinko merupakan bisnis yang sah, tapi bersaing dengan Yakuza juga merupakan suatu bisnis yang cukup menakutkan bagi para pengusaha.

Melihat betapa banyak limpahan Yen (uang Jepang) dan ikut campurnya gangster dalam bisnis pachinko, entah sampai kapan akademi pachinko ini bisa bertahan. Mungkin cuma fenomena sementara atau malah menjadi bisnis pelatihan baru? Paling tidak ada sebuah sekolah pelatihan dengan genre yang berbeda dengan akademi biasa.

2008/09/11

Parkir Motor Kampus

Akhir-akhir ini, aku cukup dipusingkan dengan masalah parkir di sekolah (Universitas Shizuoka.) Negara maju seperti Jepang memang memiliki masalah lahan parkir yang semakin besar, bersamaan dengan meningkatnya tingkat penjualan dan kepemilikan kendaraan bermotor, terutama mobil. Apalagi kalau diingat Jepang termasuk negara industri mobil besar dunia, sehingga bisa dimaklumi kalau mobil-mobil yang berseliweran di Jepang sangat banyak macam, model dan jumlahnya.

Yang membuat aku pusing bukan masalah parkir mobil, toh aku tidak memiliki satu biji mobilpun. Statusku yang cuma mahasiswa hanya paling kuat untuk memiliki motor saja, itupun motor skuter. O iya, Jepang mengklasifikasi jenis motor dan unten menkyo (Surat Ijin Mengemudi) berdasarkan tingkat cc kendaraan、tiap jenis motor memiliki jenis menkyo masing-masing dengan tingkat ujian berbeda.


1. Gentsuki (skuter) 50 cc atau kurang
2. Chuugata (mesin sedang) 51 - 125 cc
3. OOgata (mesin gede) 126 - 400 cc

Kampusku memulai tahun ajaran 2008 dengan peraturan baru yang bikin aku kesal, walaupun aku memahami maksud mereka yang ingin mengatur kendaraan siswanya. Setiap sepeda dan motor harus dikasih stiker (sejenis peneng) yang menyatakan bahwa sepeda/motor dengan stiker dimiliki oleh siswa. Tanpa stiker, sepeda akan diangkut oleh petugas untuk disingkirkan dan motor dilarang masuk/parkir dikampus. Bagaimana dengan mobil? Jangankan parkir, mobil siswa masuk kampus aja harus pakai surat ijin dari satpam. Itupun dengan syarat kondisi darurat.


Memangnya kenapa aku harus kesal? Alasan apa aku nggak boleh memperoleh stiker untuk ditempel di Gentsuki-ku? Jawaban pengurus kampus sederhana saja. Pemilik motor harus memiliki alamat tinggal dengan radius sejauh lebih dari satu kilometer dari kampus. Jika kurang dari 1 kilometer, dipersilahkan untuk jalan kaki atau naik sepeda supaya para siswa bisa sedikit berolahraga. Walaupun aku sudah komplain dengan berbagai alasan, mereka tetap saja bilang peraturan adalah peraturan.


Sebenarnya sih aku nggak keberatan jalan kaki dari kos-kosan kekampus. Masalahnya adalah waktu yang dipakai untuk jalan kaki bagiku bisa digunakan untuk hal lain. Lumayan kan waktu 2x15 menit dipakai buat kerja part-time? Alternatif lainnya adalah pakai sepeda. Sejak punya motor, sepedaku sudah jadi barang rongsokan dan dibuang. Apa aku harus beli sepeda lagi hanya karena motorku tidak boleh parkir dikampus?


Terpaksa motorku mulai diparkir di lapangan besar sebelah kampus yang biasanya digunakan untuk umum. Itupun tidak berlangsung lama, karena ternyata siswa yang bernasib sama denganku berjumlah cukup banyak. Hasilnya, parkir dilapangan besar itupun ditutup untuk siswa dan dijaga oleh kakek-kakek galak yang siap menyemprot siswa kampus tetangga yang berani parkir motor disitu.


Bagaimana sekarang? Sekesal-kesalnya, tetap saja nggak bisa masuk area parkir dalam kampus ataupun parkir di lapangan tetangga. Ujung-ujungnya parkir di area parkir khusus sepeda, sambil main kucing-kucingan sama petugas satpam supaya jangan sampai ketangkap parkir motor ditempat parkir khusus sepeda. Hal ini nggak tau bisa sampai kapan, karena jumlah siswa yang pakir motor di area ini semakin banyak (otomatis semakin gampang ketahuan sama petugas satpam). Benar-benar reseh.......